KETUA Dewan Pimpinan Nasional Relawan Perjuangan
Demokrasi (DPN-Repdem) Bidang Penggalangan Tani, Sidik Suhada menegaskan,
kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) sama sekali tidak ada kaitannya dengan
subsidi. Tapi 100% disebabkan gagalnya pemerintah menasionalisasi sumber minyak
dan penguasaan teknologi perminyakan.
"Juga kegagalan pemerintah dalam membersihakan praktik-praktik mafia
perdangan yang sudah berkolaborasi dengan para birokrasi rente," tandas
Sidik Suhada, dalam rilis berita yang dikirim ke Infokom PDI Perjuangan Jawa
Timur, semalam.
Sidik menyebut, rencana menaikkan harga BBM itu akan berdampak negatif bagi
rakyat. Tak terkecuali bagi kaum tani di pedesaan, yang jika harga BBM naik,
kehidupannya akan semakin menderita.
Sebab, kata dia, kenaikan harga BBM secara otomatis membawa dampak pada
kenaikan harga kebutuhan produksi pertanian seperti pupuk, bibit, dan
obat-obatan pertanian. Namun hasil produksi pertanian akan jatuh karena
pemerintah selama ini tidak memiliki kebijakan melindungi produksi pertanian
petani dalam negeri.
"Seperti kebijakan impor bahan pangan dan hortikultura yang selama ini
dilakukan pemerintah, telah menghancurkan harga-harha hasil produksi pertanian
lokal," sebutnya.
Selain itu, tambahnya, kenaikan harga BBM secara otomatis juga akan membawa
dampak pada kenaikan harga-harga kebutuhan pokok yang akhirnya membuat
masyarakat menjadi semakin menderita.
Kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM, lanjut Sidik, ini menunjukkan
pemerintah telah gagal melindungi hak-hak masyarakat. Pemerintah mengatakan
bahwa kenaikan harga BBM itu sebagai akhibat akan dicabutnya subsidi BBM.
Alasan pembenar pemerintah, subsidi mengakibatkan pembengkakan APBN.
Namun, disisi lain, pemerintah tidak pernah transparan dan secara jujur terbuka
memaparkan berapa sesungguhnya total biaya produksi per liter BBM. Jika
pemerintah jujur dan terbuka, imbuh Sidik, rakyat akan tahu apa benar ada
subsidi BBM atau tidak.
"Sebab, layak diduga kuat, sebenarnya selama ini tidak ada subsisi BBM
yang diberikan pemerintah untuk rakyat. Buktinya, harga BBM selama ini sudah
sangat tinggi," ujarnya.
Dia mengutip pernyataan mantan menteri di era Presiden Megawati Soekarnoputri,
Kwik Kian Gie pernah memaparkan bahwa biaya produksi BBM jenis premium tidak
lebih dari Rp 500,-/liter. Jika pemaparan Kwik Kian Gie itu benar, terang
Sidik, maka dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya subsidi BBM selama ini tidak
ada. Karena harga premium saja sudah Rp.4.500/liter. Padahal biaya produksi
hanya Rp.500/liter.
Pemaparan Kwik Kian Gie itu, ucap Sidik, juga semakin membenarkan bahwa
pemerintah Presiden SBY selama ini hanya ingin mengeruk untung besar dari
rakyatnya sendiri. Rakyat yang seharusnya dilindungi hak-haknya sebagai warga
negara, oleh pemerintah SBY hanya dijadikan pasar untuk mengeruk keuntungan.
"Inilah rezim birokasi rente yang hanya berpikir mengeruk keuntungan tanpa
memperhatikan derita rakyat," tegasnya.
Paparan Kwik Kian Gie yang diperkuat data dan fakta menunjukkan bahwa di negara
lain seperti Venezuela harga BBM hanya dijual Rp 585/liter, Nigeria BBM dijual
Rp 1.170/liter. Iran BBM dijual Rp 1.287/liter. Saudi Arabia BBM dijual Rp
1.404/liter. Mesir BBM dijual Rp 2.300/liter. Sementara di Indonesia, BBM jenis
Premium sudah dijual Rp 4.500/liter. "Padahal katanya selama ini BBM
disubsidi," kata Sidik.
Dia lantas memaparkan penyebab BBM di Indonesia sangat mahal, meski sebagai
negara penghasil minyak.
Pertama, 70% sumber migas di Indonesia dikuasai oleh negara asing, seperti,
Total, Conoco, Chevron, Exxonmobil, Total dan British Petrolium.
Kedua, Indonesia tidak mengelola pemurnian minyak, tetapi menjual minyak mentah
dan membeli kembali minyak jadi dengan harga jauh lebih mahal.
Ketiga, tidak adanya pemisahan yang jelas dan tegas antara kepentingan bisnis
dan pejabat pemerintah. Banyak pejabat yang ada dalam birokrasi pemerintah
merangkap menjadi pengusaha. Bahkan tak sedikit jumlahnya pejabat merangkap
profesinya sebagai makelar. Sehingga seringkali, kebijakan yang dibuat hanya
melayani kepentingan bisnis dan usahanya. Bukan untuk melayani kepentingan
rakyat.
Keempat, praktik-praktik birokrasi rente ini jugalah yang melahirkan banyaknya
praktik korupsi. Sehingga dana-dana subsidi yang seharusnya diberikan pada
rakyat, banyak yang dikorup. Akhirnya rakyat yang dikorbankan.
Kelima, kolaborasi birokasi rente dan mafia perdanganan minyak, kerap kali
merekayasa dan memainkan harga BBM untuk memperbesar keuntungan para mafia yang
berkolaborasi dengan birokrasi rente itu. (pri)